oleh

Pengembang Jepang Terus Berburu Proyek di Indonesia

Jakarta, WIcom – Meskipun pelaku usaha dalam negeri sering mengeluhkan kondisi properti yang melesu, pengembang asing, terutama Jepang tetap melihat potensi yang besar pada pasar Indonesia.

Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya pengembang Jepang yang ekspansif melebarkan sayap bisnisnya di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal, Jepang menduduki peringkat kedua negara yang menanamkan investasi terbesar di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2018, yaitu sebesar US$3,8 miliar.

Adapun, secara keseluruhan total penanaman modal asing, sektor properti menduduki peringkat pertama bidang usaha yang mendatangkan investasi asing terbesar yaitu sebesar US$3,5 miliar atau sebanyak 859 proyek.

Hubungan baik antara Jepang dan Indonesia pun telah terjalin lama, yaitu sejak 20 Januari 1958 saat penandatanganan perjanjian perdamaian antara kedua negara.

Presiden Direktur Tokyu Land Indonesia Keiji Saito memperkenalkan proyek ketiganya di Indonesia, Branz Mega Kuningan untuk memperingati 60 tahun hubungan diplomasi tersebut.

Keiji mengatakan negeri ini masih memiliki potensi yang sangat bagus untuk pengembang properti luar negeri berinvestasi. Dia masih optimistis dan berkomitmen melakukan bisnis di Indonesia meski tahun depan diperkirakan bukan tahun yang menyenangkan bagi pelaku bisnis.

“Meskipun masih belum stabil pada tahun depan, saya melihat kabut itu akan berlalu. Saya yakin 2019 akan ada improvement meski ada kondisi ekonomi dan politik,” ujarnya, Selasa (18/12/2018)

Branz Mega Kuningan merupakan proyek kerja sama antara Tokyu Land Indonesia dengan Japan Overseas Infrastructure Investment Corporation for Transport & Urban Development (JOIN) yang menyuntik pendanaan pada proyek tersebut sekitar Rp837 miliar. Sementara itu, total investasi keseluruhan proyek Branz Mega Kuningan adalah sekitar Rp2,5 triliun.

Proyek ini akan dibangun di lahan seluas sekitar 11.000 m2 dengan jumlah unit kondominium sebanyak 482 unit dan apartemen sewa sebanyak 240 unit.

Proyek yang menggunakan konsep All Japan tersebut akan menggunakan, desain, pengembangan, kontraktor, dan pengelola apartemen dari Jepang dan merencanakan akan melebarkan jalan di sekitar proyek.

Branz Mega Kuningan ditargetkan akan dimulai pengerjaannya pada kuartal kedua 2019 setelah Pemilu dan rampung pada 2023.

Selain itu, kondisi properti Negara Sakura yang tengah menghadapi resesi menjadi salah satu alasan Tokyu Land berekspansi di Indonesia.

Pasar Jepang

Jepang mengalami kemerosotan jumlah penduduk, yaitu dengan penduduk yang memiliki rentang usia tua menjadi mayoritas penduduknya saat ini. Akibatnya, harga properti Jepang melambung dan lahan pengembangan baru semakin terbatas.

Iklim investasi Indonesia yang sedang memiliki bonus demografi atau dipenuhi oleh usia produktif atau milenial di tengah banyaknya jumlah populasi Tanah Air, juga menjadi alasan. Pengembangan infrastruktur yang masif juga menjadi daya tarik bagi pengembangan properti saat ini.

Lahan indonesia yang masih bisa banyak dikembangkan berbanding terbalik dengan kondisi kota-kota besar di Jepang yang telah matang.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Executive Director Tokyo Tatemono Asia Pte. Ltd. Ryutaro Nishimura. Menurutnya, Indonesia adalah pasar yang sangat penting bagi Tokyo Tatemono. Perekonomian Indonesia telah tumbuh positif dalam beberapa tahun terakhir, ditandai dengan pencapaian gross domestic product (GDP) tertinggi di antara negara-negara Asean.

Selain itu, umur rata-rata orang Indonesia adalah 28 tahun, berbeda jauh dibandingkan dengan Jepang yaitu 43 tahun, sehingga Ryutaro menilai Indonesia memiliki potensi yang sangat besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia usia 20 tahun hingga 40 tahun di tahun 2020 diprediksi akan berjumlah 83 juta jiwa atau 34 % dari total penduduk Indonesia yang mencapai 271 juta jiwa.

“Ekspansi yang kami lakukan juga merupakan strategi perusahaan karena pasar properti Jepang sudah melambat. Oleh karena itu, kami menyasar negara-negara Asia Tenggara untuk mengantisipasi pasar dalam 2 tahun ke depan,” jelas dia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed